Screenshot_20250915_121831_Google

Cium Sayang Buat Laras

Anjani terkejut. Panik. Begitu membuka mata, di sisinya, ranjang kosong. Bayi mungil yang semalam melekat erat kini tak ada. Jantungnya berdetak lebih cepat, napasnya tersengal.

“Sttt…”

Suara lirih memecah kesunyian. Dari dekat pintu kamar, Desta berdiri dengan bayi di pelukan. Laras tampak pulas, wajahnya bagai bulan kecil yang tertidur di langit malam. Jari telunjuk Desta menempel di bibirnya, memberi isyarat tenang.

Anjani menghela napas panjang. Ada rasa lega bagai air yang jatuh ke tanah kering.

“Tidurlah lagi,” ucap Desta lembut, suaranya nyaris tak lebih keras dari bisikan angin. “Kamu perlu istirahat.”

“Kenapa kamu menggendongnya?” tanya Anjani, suaranya pelan, masih bergetar.

“Tadi Laras sempat menangis. Kamu lelah, tak mendengarnya. Biarkan sebentar bersamaku.”

Anjani memandangi agak lama. Lelaki itu berdiri tenang, menimang anaknya seolah sedang menimang semesta. Hatinya hangat. Ia rebah kembali, membiarkan kantuk menyeret tubuhnya.

“Terima kasih, Yang…” gumamnya, sebelum matanya kembali tertutup.

Desta tidak segera meletakkan Laras. Ia berjalan perlahan, langkah-langkahnya serupa ayunan halus. Sambil mendengar musik instrumental mengalun tipis, menambah sunyi malam. Tatapan Desta tak lepas dari wajah anaknya. Polos. Tanpa dosa. Ia merasa sedang menatap hidup yang baru dimulai, dan entah mengapa, dirinya ikut merasa dilahirkan kembali.

Pagi merekah. Matahari menyapu halaman dengan cahaya lembut. Desta sudah di teras, dengan teh hangat dan koran di tangannya.

Anjani keluar membawa sepiring pisang goreng. Wajahnya masih teduh meski semalaman diganggu rengekan si kecil.

“Kamu tidak ngantuk, Sayang?” tanyanya sambil duduk di depannya.

Desta menurunkan koran, menatap istrinya, lalu tersenyum nakal. “Kau lihat ada kantuk di wajahku?”

Senyum Anjani merekah, tawa kecilnya pecah. Dalam lelah, ada bahagia yang sederhana.

“Kamu selalu tampak ceria, Desta. Padahal aku sering capek hanya membayangkan ritme hidupmu dari pagi hingga malam.”

“Semua yang dijalani dengan hati senang tak pernah benar-benar terasa berat,” jawabnya enteng.

Anjani hanya geleng kepala. “Sok filsuf, kamu.”

Suasana sebentar hening. Anjani menunduk, lalu berkata lirih, “Sejak sore kemarin, badan Laras agak hangat.”

“Oh ya?” Desta menatap penuh perhatian.

“Makanya ia rewel semalaman.”

“Kenapa tak kau ceritakan?”

“Kau pulang larut. Aku tak ingin menambah bebanmu.”

Desta terdiam sejenak, lalu menatap istrinya dalam. “Aku ini suamimu, Anjani. Aku selalu siaga untukmu, kapan saja”

Mata Anjani bergetar, hatinya disusupi rasa bersalah dan terharu sekaligus. Ia tahu benar, sejak kehamilan hingga kini, lelaki itu selalu hadir, seakan tak ada celah lelah untuk dirinya.

“Sudah kau beri obat?” tanya Desta, nada khawatir terselip di suaranya.

“Anak kecil hangat itu biasa,” jawab Anjani lembut.

Namun Desta tidak puas. Ia meletakkan cangkirnya, lalu meraih tangan istrinya.

“Semalam, Laras tidur lama dalam pelukanku,” katanya, suaranya pelan tapi tegas. “Dan aku sadar, Anjani, aku tak bisa membiarkanmu sendirian. Beratnya seorang ibu tak pernah bisa dibandingkan dengan pekerjaanku. Satu jam saja aku menggendongnya, aku tahu… itu pekerjaan yang lebih berat dari kerja seharian di luar rumah.”

Anjani tercekat. Ada perasaan haru yang tak bisa ditutupi.

“Itulah sebabnya aku begitu menghormati ibuku,” lanjut Desta. “..menghormati setiap ibu, termasuk kamu. Sosok ibu adalah pahlawan sejati bagi anak-anaknya. Dan bila aku bisa membantu walau hanya sedikit, biarkan aku melakukannya. Itu caraku menjadi berarti”

Suasana sunyi. Hanya suara burung di kejauhan. Anjani menggenggam tangan suaminya lebih erat.

“Kata-katamu dalam sekali, Desta,” ucapnya lirih. “Sampai ke dasar hatiku.”

“Mungkin karena aku berbicara dengan hatiku”

Desta berdiri, merapikan kemejanya. Ia menunduk, menatap istrinya penuh kelembutan.

“Aku berangkat dulu. Titip Laras baik-baik. Dan… cium sayang dariku buatnya.”