unnamed (1)

“Kopi bikinanmu enak, Surti. Pas dilidahku” kata Gandi usai dipersilahkan minum.

“Ah masak, sih,”

Surti tersipu suguhannya dipuji.

Gandi masih tampak menikmati. Diseruputnya lagi kopi panas itu sebelum diletakkan di atas meja.

Usai minum, Gandi merebahkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia tampak santai. Pandangannya bergerak gerak ke arah dinding ruang tamu yang terpajang foto-foto hitam putih yang sudah kusam.

“Sekarang, saya ingin mendengar tanggapanmu soal permintaanku tadi”

Gandi mencoba memulai pembicaraan.

“Pak Dokter, tolong dengarkan saya ya,” kata Surti seperti sedangkan menjelaskan sesuatu.

“Kedatangan Bapak di gubug saya ini membuat saya malu dan bingung. Apalagi meminta yang bukan bukan,” sambung Surti dengan senyum khasnya.

“Dengar juga, ya,” sahut Gandi tak mau kalah. “Tak ada yang namanya Pak Dokter. Kamu bicara sama siapa” kata Gandi mengikuti gaya Surti.

Gandi sangat paham, Surti orangnya suka bercanda. Setiap kegiatan ada dia, suasananya selalu meriah. Ada saja yang dia lakukan untuk membuat cair keadaan.

“Tenang!” kata Surti mengangkat telapaknya ke arah Gandi dengan gaya jenaka. “Pak Dokter tak boleh protes. Biar rumah tua ini ikut mendengar ada seorang dokter, baik hatinya, terhormat, tampan datang salah alamat”

Gandi menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menyerah apa kata Surti. Candanya membuat ia tak berkutik.

“Aku tak datang kerumahmu, Surti..”

“Lha, yang duduk di depan saya ini siapa?”

Mata Surti melotot bundar ke arah Gandi dengan mimik jenaka.

“Aku datang padamu, Surti. Mengetuk pintu hatimu. Sama sekali tidak salah alamat”

Gandi mencoba bicara serius.

“Jangan bikin saya GR, Pak Dokter”

“Kenapa mesti GR?”

“Mobil Pak Dokter parkir di depan rumah saja, besok saya jadi omongan sekampung”

“Trus, apa yang salah?”

“Duh, Pak Dokter ini gimana sih. Saya mesti bilang apa ke orang-orang? Saya ini siapa?

“Lha kamu siapa?”

Gandi dengan senyum geli memandang Surti yang tampak salah tingkah.

“Saya ini perempuan desa biasa. Tak cantik. Tinggal di rumah tua yang sudah tak layak. Hidup berdua bersama nenek yang sudah renta dan sakit sakitan. Bayangkan, Pak Dokter?”

“Aku tahu solusinya”

“Apa?”

“Gampang..”

“Apa?”

“Terima saja permintaanku, gampang, kan?”

“Saya?”

“Ya!”

“Menerima permintaan jadi pendamping Pak Dokter?”

“Ya! Tak salah!”

Surti menggeleng-gelengkan kepala. Telunjuknya digerak-gerakkan ke kiri dan kanan seolah memberi kode penolakan.

“No..no..no..!”

“Kenapa?”

“Pak Dokter yang baik hati,” kata Surti mencoba menerangkan pelan-pelan.

“Waktu bikin minum tadi, saya sudah berkaca. Kesimpulanku sudah benar. Pak Dokter salah alamat”

“Kacamu sudah kusam kali, Sur”

“Yee, Pak Dokter nuduh! Itu kaca baru. Hasil gaji pertama kerja bikin selai pisang di rumah Bu Sum. Sembarangan!”

Gandi hanya bisa tersenyum melihat reaksi Surti yang tak henti bercanda. Tapi mungkin itu daya tarik Surti di mata Gandi. Sosok mandiri yang terlihat selalu riang dan menghibur.

“Aku serius, Surti”

“Saya juga serius lo, Pak Dokter.”

“Jadi, kamu menolak permintaanku?”

Surti terdiam sejenak. Matanya memandang ke arah Gandi dengan senyuman yang ditahan.

“Pak Dokter, desa ini banyak gadis cantik yang lebih pantas jadi Bu Dokter. Jangan saya”

“Kamu, menolak permintaanku, Surti?” Gandi mengulang pertanyaannya.

“Saya tak menemukan alasan apapun Pak Dokter memilih saya jadi pendamping hidup. Pikiran saya tak sampai. Tolong pertimbangkan lagi permintaan Pak Dokter”

Surti tiba-tiba merubah gayanya menjadi serius.

“Hatiku yang memilih. Memilihmu, Surti”

Surti lagi lagi terdiam. Kali ini tak tampak lagi senyum dan canda.

“Permintaan Pak Dokter berat kuterima. Biarkan saya jadi Surti seperti sekarang”

“Apa yang membuatmu berat?”

“Saya sudah merasakan bahagia dengan kehidupan seperti ini. Apalagi sejak Pak Dokter datang ke Desa ini dan membimbing warga. Semua jadi lebih mudah. Sekarang banyak usaha warga yang membuat hidup ini jauh lebih ringan. Nenek saya juga jadi senang punya kegiatan dan punya waktu bersosialisasi. Bagi saya itu cukup”

“Apa hubungannya dengan permintaanku?”

Gandi masih meraba jalan pikiran Surti.

“Warga desa di sini begitu besar perhatiannya sama Pak Dokter, dan begitu besar harapanya. Semua membicarakan Pak Dokter. Saya merasakan itu.”

“Iya, terus apa hubungannya dengan permintaanku, Surti”

Gandi bertanya lagi seperti menahan kesabaran.

“Saya tak mau membuat kecemburuan warga di sini. Pak Dokter sudah jadi milik semua warga. Saya merasa tak pantas. Ini hati saya yang bicara. Tolong pahami saya”

Gandi terdiam mendapati jawaban Surti. Ia berusaha memahami jalan pikiran Surti

“Baiklah, aku hormati keputusanmu” kata Gandi.

“Terima kasih, Pak Dokter”

“Boleh aku tanya?”

“Silahkan, semoga aku bisa jawab”

“Apakah sudah ada lelaki lain yang sedang menjalin hubungan denganmu?”

Surti menggelengkan kepalanya.

“Pak Dokter orang pertama” jawab Surti

Gandi mengangguk-anggukan kepalanya.

“Satu lagi. Pertanyaan terakhir,” kata Gandi sambil mengacungkan telunjuknya seolah memberi kode angka satu.

“Apa tak ada bersit cinta dihatimu terhadapku, Surti?” lanjut Gandi.

“Kenapa itu pertanyaannya. Tak ada pertanyaan lain, Pak Dokter?”

Surti tampak salah tingkah mendapat pertanyaan diluar pikirannya.

“Itu pertanyaan terakhir. Jawablah kalau kamu berkenan?”

Mulut Surti terkatub. Matanya memandang dalam-dalam kearah Gandi. Tak terasa matanya basah.

“Hatiku dipenuhi cinta padamu, Pak Dokter.”

Jawab Surti dengan suara berat seperti menahan sesuatu yang lama dipendam.

“Tapi itu terlalu sempurna untuk kumiliki. Saya tak mengijinkan diriku memiliki cinta itu.”

Kali ini airmata surti benar benar berlinang. Ia tak kuasa lagi mengendalikan emosinya.

“Maafkan saya, Pak Dokter. Maafkan. Semua kulakukan karena besarnya cinta saya sama Pak Dokter, dan seluruh warga desa sini”

Gandi hanya bisa tercenung dan dibuat terdiam sejenak mendengar kata-kata Surti yang begitu dalam

“Cintamu rumit, Surti. Tapi saya menghormati keputusanmu.”

“Terima kasih, Pak Dokter”

Gandi memahami cintanya kandas. Ia tak bisa memaksakan permintaannya, tapi ia sangat mengagumi sikap dan pendirian Surti yang jauh diluar perkiraannya.

“Baiklah, Surti. Anggap selesai permintaanku”

Surti hanya menganggukkan kepala.

“Sebelum pamit, satu hal ingin kukatakan padamu. Sebenarnya pilihanku sudah tepat. Nasibku saja masih belum beruntung. Semoga kamu mendapat pendamping yang lebih baik dariku”

Mendengar kata Pamitan Gandi, air mata Surti makin menjadi jadi. Ia tak bisa berkata-kata.

Gandi berusaha tenang. Ia membiarkan Surti larut dalam emosinya yang masih sulit dimengerti.

“Surti, kamu ijinkan aku pamit?” kata Gandi saat Surti mulai tenang.

Surti mengangguk. Tangannya berusaha mengusap basah air mata dipipinya.

“Jangan buat saya menangis, Pak Dokter”

kata Surti memohon.

Gandi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

“Aku akan pulang saat kamu tersenyum, Surti. Aku ingin melihat Surti seperti aku datang ke sini” ucap Gandi mencoba menghibur.

Surti kembali mengusap pipinya. Kemudian ia arahkan wajahnya ke Gandi.

“Saya sudah tersenyum, Pak Dokter” kata Surti berusaha menunjukkan senyumnya.

Gandi kembali tersenyum geli melihat gaya Surti Pamer senyumnya. Ia kemudian beranjak dari kursinya dan berucap pamit.