Merebut Kebersamaan
Merebut Kebersamaan
(Catatan kecil pada suatu malam)
Kembalilah pada keluargamu. Tanamlah benih kasih sayang di rumah. Percayalah, surga itu letaknya tak jauh.
Pesan itu pernah kusampaikan pada seorang kawan entah kapan persisnya. Aku sendiri sudah lupa, andai saja ia tak mengingatkanku pada malam itu, saat kita berbincang di sebuah warung kopi. Konon, setelah menerima pesan itu, sekian tahun ia berjibaku untuk mendapatkan kembali keluarganya yang menurutnya hilang.
“Sebelum itu, saya tak peduli keluarga,” begitu katanya memulai pembicaraan.
Bapak dua anak itu tahunya hanya kerja dan kerja. Sebagai kepala keluarga, ia merasa tugasnya sekadar mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan sekolah. Tak ada yang lain.
Ia bercerita bahwa tiap hari keluarganya memang berkumpul. Rumah telah menyatukan mereka. Namun keberadaan rumah seperti hanya menjadi tempat berteduh dari hujan dan panas. Hawa rumah tangga terasa kering dan hambar.
Ia bilang, “Hati dan pikiran kami tak pernah saling bertemu. Meski satu rumah, kami hidup dengan dunia masing-masing. Saya juga tak pernah tahu bagaimana suasana batin anak-istri. Begitu juga mereka, tak peduli kehidupan saya. Pergi saya tak ditanya, pulang pun tak dirindukan. Itu yang terjadi bertahun-tahun.”
Si kawan kemudian melanjutkan cerita dengan mata berkaca-kaca. Sekarang ia merasakan telah menemukan kembali keluarga yang hilang itu. Kebahagiaan demi kebahagiaan ia dapatkan, meski peristiwanya sederhana.
“Saya merasa bersalah. Saya yang memulai, dan saya yang harus berubah lebih dulu,” begitu pengakuannya.
Ia bercerita bahwa ia mulai belajar menyapa seisi rumah. Jika dulu pemarah dan sering berkata dengan nada tinggi, sekarang perlahan ia kurangi. Pulang kerja tak lagi menyisakan raut suntuk dan lelah. Ia mencoba selalu memulai bicara, menebar senyum, dan menyapa dengan hati.
Sekitar satu-dua tahun ia berjuang. Itu tidak mudah. Menurut pengakuannya, selama ini bukan hanya ia tak peduli, tetapi mungkin juga sudah melukai hati seisi keluarganya melalui sikap, perkataan, dan tindakan. Wajar jika hati mereka ikut menjauh, atau diam-diam memusuhi.
Sekarang, semua telah berubah. Seperti tanaman, keluarganya kembali tumbuh bersemi. Saat ini semua saling hadir dan saling merindukan. Jika dulu kamar adalah istana anak yang rapat dan kedap, kini bergeser ke ruang keluarga atau teras. Saling bercerita dan bercanda menjadi warna baru keluarga.
Tak terbayangkan oleh si kawan, ia bisa bercengkrama berdua dengan putrinya, atau bernyanyi berdua dengan putranya. Teras rumahnya menjadi saksi kebersamaan itu. Jika sore hari hingga magrib tiba, di teras itu mereka sering berkumpul menghabiskan waktu bersama. Pemandangan yang tak pernah terjadi sebelumnya.
“Hati ini terasa haru,” kata si kawan menuturkan pengalaman kecilnya. “Anak saya yang sudah SMA mau diantarkan ke sekolah, dan ia senang. Saya bahagia sekali…” ujarnya sambil memegang dadanya dengan air mata berderai.
Ia bercerita bahwa di banyak kesempatan ia berusaha merebut kebersamaan. Itu seperti ia tengah membayar hutang pada keluarganya.
“Tak harus mahal dan jauh. Mungkin hanya beli mi ayam bersama istri naik motor, mengantar anak sekolah, atau menemani anak ketika makan. Itu sudah cukup membahagiakan sekali.”
Aku hanya bisa mendengar tanpa satu ucapan pun. Hatiku ikut terharu ketika si kawan bicara mengalir. Ia seperti hendak berbagi bahagia.
“Saat ini, saya tak hanya tahu kehidupan anak. Bahkan teman-teman bermainnya saya kenal dengan baik. Rumah saya sekarang bukan hanya tempat nyaman bagi anak saya, tapi juga bagi kawan-kawannya. Malam minggu rumah saya jadi tempat kumpul teman-teman anak, dan saya sering ikut mengobrol dengan mereka. Pengalaman itu menyenangkan sekali.”
Air mata si kawan itu makin berderai memenuhi pipinya, ketika suatu saat hendak pergi, anaknya bertanya, “Bapak mau pergi?”
Kata-kata itu terngiang di benaknya. Meski terdengar sederhana, kata itu betul-betul menyentuh jauh di dalam hatinya. Ia memaknainya sebagai tanda anaknya kini telah merasakan arti kebersamaan. Ia juga merasa keberadaannya dirindukan. Saat ini ia merasa ada dan berarti di tengah keluarga.
Berkali-kali mulutnya berucap syukur. Waktu berjalan terasa indah. Si kawan merasa menemukan surga di keluarganya. Aku pun ikut merasakan keindahan itu.
Juni 2024






