1755650803686

Arti Pemberian Anak

Sering orang tua beralasan, bekerja keras, peras keringat demi anak. Jerih payah itu dilakukan untuk anak-anaknya: membesarkan, mencukupkan nutrisi, uang sekolah, membeli baju, mainan dll. Tapi tidak bagi bapak-bapak yang kujumpai sore itu.

“Saya justeru merasa anak-anak yang lebih banyak memberi sesuatu pada saya,” kata satu Bapak berpendapat.

Ketika pulang kerja, anak msnyambut dengan senyuman dan wajah ceria, itu sebuah pemberian. Semua letih seharian seperti sirna sudah. Ketika anak bercerita kejadian yang dialaminya di sekolah, itu juga pemberian. Bahkan ketika anak mengajak bermain, minta diantar ke sekolah, atau minta ditemani saat membeli sesuatu, itu juga sebuah pemberian.

Sambutan, senyum, permintaan ini itu, kata si Bapak dua anak itu, adalah bentuk penghargaan anak pada orang tuanya. Setidaknya orang tua merasa ‘ada’ dan berarti. Mungkin akan berbeda ketika anak tak peduli orang tuanya, ada atau tidak ada saat di rumah. Tak sedikit orang tua datang tak disambut, pergi tak ditanya. Baginya, itu sebuah kisah pilu orang tua.

Si bapak itu juga bercerita pengalaman unik. Puterinya dari kecil hingga sudah dewasa, setiap mau tidur selalu minta diselimuti ayahnya. Ya, sekedar memakai selimut, apa beratnya? Tapi mungkin bagi anak, sentuhan selimut dari tangan orang tuanya punya arti tersendiri. Pun bagi orang tuanya, melakukan itu dengan senang hati, karena bersamaan dengan itu, ia merasa bermakna. Ada hati bicara antar diantara anak dan selimut itu.

Bapak satu lagi punya pengalaman menarik. Suatu siang, ia diajak makan siang anaknya yang baru kerja di ibukota. Mereka sekedarĀ  makan siang berdua disebuah restoran dan bercakap-cakap sejenak, setelah itu kembali ke tempat kerja masing-masing. Bapak itu merasa gembira sekali. Di saat anak bisa memilih makan bersama kawan-kawannya, ia masih memilih bersama ayahnya. Kebersamaan itu, walau tampak sederhana, menurutnya mahal.

Saya merasa bersyukur bertemu dua orang tua dengan cerita penuh makna. Sebuah pelajaran kecil yang menurut saya sangat berharga. Apalagi saat ini, ketika kebersamaan dan kehangatan dalam keluarga terasa kian langka. Mereka berkumpul, mungkin tiap hari, tapi saling asing satu dengan lainya. Orang tua tak tahu dunia anak, pun sebaliknya.

Hari ini ukuran keberhasilan keluarga dalam standar yang minimal. Kata seorang Kyai besar dalam tayangan media sosial bercerita, orang tua kini tak muluk berharap pada anaknya. Tidak tersangkut Narkoba saja sudah bersyukur.

Betapa bersyukur ketika orang tua saat ini masih bisa punya kedekatan dan kehangatan bersama anak-anaknya. Itu anugrah sekaligus kemewahan.