Jalan Sulit Dirja
Jalan Sulit Dirja
“Jangan pernah ragukan dukunganku, Kang…” suara Kanti bergetar namun tegas. “Aku akan menjaga anak-anak kita, menjaga kehormatanku. Pergilah dengan tenang.”
Siang itu seperti hari paling berat dalam hidup mereka. Dirja menatap halaman rumah yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Untuk pertama kalinya ia membuat keputusan besar: meninggalkan desa dan keluarganya, berangkat ke Jakarta demi mencari nafkah. Dua kali musim panen gagal, bukan karena tanah menolak benih, tetapi karena harga jual tak berpihak. Gabah tak mampu menutup biaya pupuk dan ongkos kerja. Hutang kian menumpuk, sementara dapur semakin sulit mengepul.
Sejak awal Kanti sering mengingatkan: “Bertani itu seperti berjudi, Kang. Kita hanya bisa menanam, tapi harga selalu di tangan orang lain.” Namun Dirja tetap bersikeras. Bertani adalah warisan leluhur, keahlian satu-satunya yang ia kuasai. Tapi ternyata, tanah yang ia cintai tak lagi sanggup menopang kehidupannya.
Pekerjaan sambilan sebagai tukang bangunan pun makin sepi. Order berkurang, entah karena krisis, entah karena makin banyak pesaing. Dirja merasa terjepit, seakan semua jalan tertutup.
“Aku percaya padamu, Kanti. Kakiku berat meninggalkanmu, tapi aku tak punya pilihan lain,” suara Dirja parau, seperti tertahan di kerongkongan.
“Aku memahami perasaanmu, Kang. Mungkin memang ini jalan yang harus kita lalui,” jawab Kanti dengan mata berkaca-kaca.
Dirja meraih cangkir kopi di meja, menyesapnya perlahan. Rasa pahit kopi itu serupa nasibnya, namun hangatnya seakan meneguhkan hati.
“Beginilah orang kecil, Kanti,” gumamnya lirih. “Seringkali tak berdaya. Satu demi satu tetangga kita pergi meninggalkan desa. Lapangan kerja di sini makin sempit, makin diperebutkan.”
“Iya, Kang,” sahut Kanti. “Perempuan pun banyak yang merantau, bahkan sampai ke luar negeri. Sedih rasanya melihat bayi harus berpisah dari ibunya.”
Dirja menghela napas panjang. “Tak ada ibu yang rela berpisah dengan anaknya. Tapi kepada siapa mereka bisa berharap? Semua orang sibuk dengan hidupnya sendiri. Hanya keterpaksaan yang membuat mereka memilih jalan pahit.”
Kanti menunduk sebentar, lalu berbisik lirih, “Gusti Allah ora sare, Kang. Semoga ikhtiarmu diberi jalan.”
Dirja memandang wajah istrinya lama sekali. Ada keteguhan di mata Kanti, meski ia tahu, hatinya sedang berguncang hebat.
“Mengapa memandangku begitu, Kang? Kamu ragu kata-kataku?” tanya Kanti pelan.
“Tidak,” Dirja menggeleng. “Aku hanya bersyukur. Aku mendapat istri yang setia, menemaniku dalam suka dan duka.”
“Bukankah memang begitu seharusnya seorang istri?” Kanti tersenyum kecil, menahan getar di bibirnya.
Dirja tak sanggup menjawab. Ia hanya menunduk, merasakan kehangatan syukur yang sulit diucapkan.
Kanti lalu berdiri, berjalan mendekat, dan menepuk pundaknya dengan lembut. “Kita sudah lama berumah tangga, Kang. Aku tahu tanggung jawabmu begitu besar. Usahamu juga sudah keras. Jangan salahkan dirimu. Keadaanlah yang sedang sulit.”
Dirja terdiam. Namun hatinya perlahan terasa lebih ringan, seakan suara Kanti menjadi penopang yang tak terlihat.
“Sebentar lagi kamu akan berangkat,” ucap Kanti, kini menatapnya penuh keteguhan. “Bulatkan tekadmu. Aku dan anak-anakmu akan selalu mendoakanmu.”
Dirja menggenggam tangan istrinya erat-erat. Senyum Kanti menyelinap ke dalam hatinya, mengalirkan kekuatan baru.
“Ya, aku berangkat, Kanti. Bismillah. Semoga Tuhan memberkahi jalan kita.”
“Aamiin,” bisik Kanti, sembari menahan air mata yang hampir jatuh.






