Nutrisi Jiwa
Nutrisi Jiwa
Setiap anak membutuhkan nutrisi yang cukup agar tumbuh sehat dan normal. Nutrisi ini bisa berupa makanan fisik (empat sehat lima sempurna), dan bisa juga berbentuk nutrisi jiwa—seperti rasa aman, cinta kasih, perhatian, serta penghargaan.
Seorang anak yang kekurangan vitamin C, misalnya, akan mengalami gangguan tubuh seperti sariawan. Jika ia kekurangan vitamin A, penglihatannya bisa terganggu. Demikian pula, anak yang tidak mendapatkan cukup nutrisi jiwa, seperti sentuhan kasih sayang dan rasa aman, terutama pada usia dini, cenderung mengalami kekeringan jiwa. Ekspresi kelembutan menjadi kering, sikapnya cenderung keras, dan ia mungkin kurang memiliki kepekaan terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Ada semacam “defisiensi” yang berpotensi menimbulkan gangguan pada keseimbangan jiwa. Orang lain mungkin menilai ia tidak memiliki “rasa” atau empati. Padahal, sesungguhnya ia punya. Hanya saja, karena kekurangan pasokan nutrisi jiwa, ia tumbuh dengan cara mencintai yang berbeda—yang kadang sulit dipahami oleh orang lain.
Hal yang sama juga berlaku untuk anak-anak sosial bernama masyarakat, warga, atau entitas sosial lainnya. Jika “anak-anak” ini terlalu lama tidak disapa, tidak diperhatikan, dan tidak mendapatkan kehangatan yang cukup dari orang tuanya—yakni para pemimpin, tokoh, atau elit—maka secara alamiah mereka akan mengembangkan “bahasa” sendiri dalam merespons keadaan, sesamanya, bahkan terhadap orang tua mereka sendiri.
Krisis perhatian dan kasih sayang ini akan melahirkan perilaku-perilaku yang sering kita lihat di sekitar: anak-anak yang bengal, susah diatur, keras kepala, tidak sensitif, pemberontak, dan sebagainya. Jika itu benar terjadi, maka barangkali mereka bukanlah pihak yang layak disalahkan. Bisa jadi, bagian terbesar dari penyebab lahirnya anak-anak seperti itu adalah sikap dan perilaku orang tua yang selama ini kurang memberikan nutrisi jiwa yang cukup.
Januari 2021






