Harga Cinta
Harga Cinta
Pernah suatu masa diperantauan, saya mendapat perhatian sebuah keluarga. Mereka tak lebih baik nasibnya dari saya. Melihat kondisi rumahnya, jika diukur kriteria BPS atau Bank Dunia, mungkin ia tergolong miskin atau prasejahtera. Kerja kepala keluarganya hanya penjual barang rongsok di pasar. Anak menantunya yang tinggal di rumah itu juga, hanya tukang becak. Tapi herannya ‘nafsu memberinya’ pada saya terbilang luar biasa. Dikiriminya saya minuman, makanan, atau apa saja yang mereka nikmati, sepertinya saya turut mendapat jatah. Entah ‘apa salah saya’ sehingga diperlakukan sebaik itu.
Pernah muncul pikiran miring dalam benak saya untuk memberi uang pengganti. Sampai pada suatu saat, saya coba berikan sejumlah uang padanya dengan alasan berbagi rezeki. Dan reaksinya mengejutkan. Ia menampik. Pemberianku ditolak dengan wajah tak terima. “Saya bukan jualan” begitu katanya. Sebuah jawaban yang membuat saya tersentak dan malu. Mungkin keluarga itu membaca pikiran jorok saya yang hendak membeli kebaikannya dengan materi, dan ia tak sudi.
Akhirnya saya paham, bahwa selama ini dia tak memberi saya perhatian, makananan atau kebaikan lainnya. Keluarga itu telah memberi saya cinta dan kasih sayang. Dan bodohnya saya yang coba-coba menukar cinta kasih sayang dengan materi. Padahal adakah yang lebih mahal dari cinta dan kasih sayang di dunia ini? Tak ada! Lunasnya hutang cinta adalah dengan cinta. Soal materi, berapapun mahal dan mewahnya hanyalah tanda cinta. Tak lebih. Hanya dengan cinta, kita membalas kepada mereka yang telah memberi kita cinta dan kasih sayang entah itu orang tua, sahabat atau siapapun saja.
- Des, 2020






