4f340928-54fb-4f96-85fb-0e34bfd45f98

Cak Nun Juga Manusia Biasa.

Sekitar akhir tahun 90an, dalam satu kesempatan, tempat saya beraktifitas hendak mengundang Cak Nun. Kebetulan saya sendiri yang mengurus. Setelah melalui proses panjang, akhirnya acara itu batal dilaksanakan lantaran tak ada lagi waktu kosong.

Kala itu saya diberi tahu. Untuk mengundang Cak Nun perlu jauh hari sebelumnya. Jadwal Cak Nun tiga bulan ke depan sudah padat. Daftar antreannya cukup panjang dari segala penjuru tanah air, bahkan dunia.

Padatnya acara Cak Nun sepertinya tak berubah hingga kini. Jika mendengar ceritanya, dalam sehari Cak Nun bisa mengisi acara tidak satu tempat. Dan yang luar biasa, jarak satu dengan tempat lainya bisa saling berjauhan. Itu berlangsung bertahun-tahun.

Lelahkan Cak Nun? Sebagai orang biasa saya akan mengatakan Cak Nun lelah. Bahkan cukup menyaksikan pergerakannya dari jauh saja, saya merasa ikut lelah.

Dalam penilaian saya, tak ada orang atau group kesenian manapun yang menandingi ‘pentas panggung’ Cak Nun dan Kyai Kanjeng’. Mungkin sudah ribuan kali dan ribu tempat telah disinggahi. Itupun tidak hanya di kota-kota besar yang aksesnya mudah. Panggung Cak Nun dan Kyai Kanjeng sering justru di pelosok kampung dipenjuru tanah air.

Magnet Cak Nun memang luar biasa. Ia bisa merebut hati banyak orang, bahkan warga masyarakat paling bawah sekalipun. Ia punya kecerdasan luar biasa untuk menggunakan bahasa yang bisa diterima oleh siapapun. Bahkan dengan kelompok suku, yang dipandang terbelakang kehadiran Cak Nun juga diterima.

Saya yakin, bukan semata soal kecerdasan dan pengetahuan luas yang dimilikinya sehingga ia diterima banyak kalangan. Cak Nun punya cinta yang melimpah untuk dibagikan pada siapapun. Karena cintanya, Cak Nun melangkah dan bicara dengan hatinya. Karena cintanya, seperti tak ada tempat yang jauh, tak ada medan yang sulit dan tak ada letih mendera. Karena cintanya, Cak Nun bicara dengan hati dan sampai di hati siapapun yang mendengarnya.

Itu menjadi bisa dipahami, ketika banyak khalayak begitu cinta padanya. Saya pernah menghadiri acara Cak Nun dan menyaksikan manusia berbondong ke acara itu tak hanya naik motor atau mobil. Mereka berdesakan naik truk dan mobil bak terbuka. Lebih haru lagi, banyak diantara mereka adalah orang tua yang jalan saja sudah tak lagi tegak. “Apa yang menggerakkan mereka” tanyaku dalam hati.

Pernah juga suatu siang, disebuah lapangan terbuka. Warga berduyun menyaksikan Cak Nun yang kala itu mengajak bersholawat dan sesekali memberi pesan pesan hikmah. Tiba-tiba hujan turun lebat. Sebagian warga lari ketepian mencari tempat berteduh. Tapi sebagian besar warga tak beranjak dari tempatnya. Mereka menyaksikan ‘panggung’ Cak Nun hingga usai.

Menurut saya, tak hanya cinta Cak Nun yang melimpah pada segenap warga, tapi cinta warga juga melimpah pada Cak Nun. Itu mengapa dimanapun tempat Cak Nun diterima dan disambut suka cita.

Tapi tetap, Cak Nun adalah manusia biasa. Jika kali ini sakit, itu karena hukum alam (sunatullah) berlaku juga buat Cak Nun seperti rasa lelah dan sakit. Meski mungkin juga, itu satu cara Tuhan agar Cak Nun punya kesempatan ‘istimewa’: istirahat bersama keluarga.

Apapun itu, sebagai orang yang merasa menjadi muridnya, doa terbaik teriring pada beliau. Salam hormat selalu, Cak. Semoga lekas sembuh. Cinta kami selalu untukmu.

Juli 2023