Socrates dan Bahaya Berfikir
Sokrates dan Bahaya Berfikir
Salahsatu guruku adalah teman kuliah. Beda jurusan. Ia empat angkatan dibawahku.
Orangnya low profil. Gayanya tenang, santun, penuh senyum dan rendah hati. Ia suka mendengar setiap perkataan kalau orang bicara.
Saat berdiskusi dengannya, seringnya aku yang memulai. Atau kalau dia coba memulai, awalnya hanya bertanya.
Begitu kami mulai satu hal, dia mencoba bertanya. Setelah satu jawaban diberikan, pertanyaan berikutnya segera menyusul. Begitu seterusnya. Dia sangat mencermati setiap penjelasan.
Sering pertanyaan itu membuat aku terkejut dan kewalahan. Bahkan kadang terasa ‘mengerikan’ lantaran bisa menggoyahkan pandangan yang selama ini kupegang. Dan banyak hal ternyata tak kumengerti justru dari pertanyaannya. Itu yang membuat aku terus belajar menyempurnakan gagasanku.
Banyak bangunan pikiranku lahir dari pertanyaannya. Bagiku dia seorang guru yang menuntun pikiran atau jalan berfikir. Dia sendiri tak banyak mengeluarkan idenya.
Mungkin saja dia sebenarnya sudah tahu. Atau itu cara dia belajar menyerap ilmu. Tapi menurutku, model bertanya seperti itu adalah salah satu cara dahsyat membantu seseorang berfikir ‘akurat’ dan argumentatif.
Saya teringat Filsuf Yunani. Namanya Sokrates. Dia tak menulis. Pun tak pidato di mimbar-mimbar. Cara yang digunakannya adalah dialog dan bertanya, utamanya dengan anak-anak muda.
Melalui metodenya itu, Sokrates banyak membantu pemuda menemukan cara berfikir. Sokrates membimbing anak muda menemukan kebenaran dengan caranya sendiri.
Bertentangan dengan kaum sofis, yang kedepankan pidato (retorika) pada masa itu. Gaya Sokrates banyak diminati kaum muda. Salah satu murid cemerlang dan sangat mengagumi gurunya itu adalah Plato. Lewat muridnya satu ini nama Sokrates dikenal dunia.
Sokrates meninggal secara tak wajar. Ia mati dengan cara minum air beracun sebagai hukuman atas perbuatanya. Dosa besar Sokrates adalah membuat anak muda berfikir sesat menurut penguasa. Meski dari sisi lain sesat itu berfikir kritis dan berfikir secara ‘benar’.
Sedikit pelajaran penting dari kisah Sokrates adalah bahaya bisa berfikir. Apalagi terjadi pada anak muda. Berfikir baik dan benar itu sering tak mengikuti arus umum, utamanya penguasa.
Feb, 2023






