1756513578436

Marxisme Adalah Candu

Marxisme adalah candu. Begitu kata saya. Bukan hanya agama sebagaimana dibilang Karl Marx. Bahkan Marxisme lebih candu dari agama.

Candu Marxime sudah terjadi sejak Marx masih hidup, ketika ide-ide Marxisme diracik oleh Marx bersama Engels. Dua sejoli ini punya ikatan istimewa dan tak tergoyahkan dalam mengembangkan pemikiran Marxisme. Sebagian kalangan menyebut sebagai perkawanan arogan, lantaran persekutuan dua kawan ini konon menutup kehadiran orang lain.

Marx tanpa Engels, mungkin tak sebesar dan semenjulang sekarang. Bisa jadi ia hanya jadi seorang filsuf atau pemikir kritis lokalan saja. Dari Engels pemikiran Marx menjadi praksis. Ide-ide Marx menjadi berkaki dan bertaji. Sebagaimana kata Marx, “Filsuf hanya menafsirkan dunia dengan berbagai cara. Intinya, bagaimanapun, yang penting mengubahnya”. Dalam beberapa kesempatan dia menghindari sesuatu yang sifatnya idealis dan abstrak. Marx lebih menekankan pada cara dalam mencapai tujuan tujuan perjuangan.

Sementara Engels, adalah seorang pemikir ekonomi. Dia juga seorang penulis produktif kala itu. Pemikiran ekonomi Marx banyak di pasok oleh Engels. Namun begitu, Engels butuh Marx untuk menuang gagasan gagasan. Lewat Marx, seluruh bangunan pikiran mereka berdua menjadi sangat tajam dan bertenaga. Engels tahu itu. Dan karenanya dalam beberapa kesempatan Engels membujuk Marx untuk menulis dan menulis.

Pernah dalam penantian yang agak panjang, para aktivis pergerakan buruh ‘dahaga’ pikiran pikiran Marx. Mereka seperti sakau karena Marx lama tidak memberi suntikan ide lewat tulisan tulisan segar dan mencerahkan. Engels sempat dibuat bingung karena para aktivis buruh itu mengadunya kepadanya. Setelah bujuk rayu, akhirnya Marx mau menulis lagi, tentu dengan bantuan Engels. Maka lahirlah karya istimewa, Das Kapital. Itupun sebenarnya karya yang belum tuntas lantaran Marx hanya membuat satu jilid dari sekian jilid yang direncanakan. Engels akhirnya yang merampungkan dikemudian hari. Marx diakhir akhir hidupnya seperti sudah pindah ‘kelain hati’ dari bicara ekonomi ke anthropologi.

Opium Marxisme sepertinya sudah terlanjur merasuk dalam alam pikiran para marxis. Antusiasme itu kian tak terbendung, Marxisme meluas tak hanya tumbuh di Benua Eropa tapi sudah merambah benua lain, termasuk mengalir deras hingga tanah air Nusantara.

Yang menarik untuk dicatat, di tengah Marxisme dipeluk bak agama baru, Marx bilang saya Marx bukan Marxis. Marx bahkan terkesan tidak suka pikirannya diterima sebagai dogma. Sejalan ketika dia mengkritik agama sebagai dogma. Pernah di tengah forum yang begitu antusias membahas pikiranya, Marx pergi tinggalkan forum. Marx tidak suka dogmatisme, termasuk terhadap pikirannya sendiri. Pikiran Marx bukanlah kebenaran tunggal, justru pikiran Marx terbuka untuk dielaborasi demi penyempurnaan. Disitulah sebenarnya kerendahan hati Marx sebagai manusia yang punya kelemahan.

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Pikiran Marx terlanjur jadi Marxisme yang sebenarnya ditentangnya sendiri. Marxisme benar benar menjadi agama baru yang konservatif dan radikal. Marxisme mengispirasi gerakan sosial di hampir sepertiga bumi. Bahkan agama baru ini merambat cepat tidak hanya di lingkungan industri tempat cikal bakal Marxisme lahir, melainkan dibelahan bumi agraris.

Seperti agama, Marxisme dibela dan diperjuangkan hingga titik darah penghabisan. Mereka rela berdarah darah dan mati demi Marxisme. Dan jutaan manusia mati atas nama agama baru ini, sebuah fakta yang tak bisa dipungkiri. Opium Marxisme tak jarang melampoi antusias keberagamaan. Marxisme seperti tak menemukan jalan selain kekarasan dan pemaksaan, sesuatu yang Marx sendiri tidak berpandangan begitu.

Sementara kata candu yang dialamatkan Marx pada agama, lebih pada soal ketakberdayaan buruh atas derita yang dihadapinya. Agama menjadi alat kapitalis agar buruh menerima takdir ketakberdayaan itu. Agama seperti ini yang dilawan Marx karena dianggap menghambat perjuangan. Tentu berbeda dengan agama, sebagaimana kata Marx sebagai alat perjuangan kelas proletar. Karena pada faktanya memang ada semangat perlawanan pada penindasan yang berasal dari agama. Jadi bukan soal agama yang candu, tapi cara agama menghadapi persoalan sosial. Genaralisir agama candu adalah pemahaman diluar kontek karena sekali lagi kata Marx, agama adalah juga alat perjuangan kelas.

Jadi, Marxisme sebagaimana sebagian penganut agama, adalah candu. Ia tertutup, tidak membuka pilihan. Bahkan konservativisme Marxis terhadap Marxisme lebih dari agama. Tentu sebagaimana agama, ada sebagian marxis yang moderat dan kritis terhadap Marxisme. Mereka terus memperbaharui pikiran Marx (sebagaimana yang diharapkan Marx) sehingga lahir varian Marxis yang lebih terbuka. Sebagian lain tetap konservatif dan dogmatis. Sisanya ditelan kapitalis.

Jan 2021