Pelajaran Dua Sahabat (Engels dan Marx)

1756825709031

Pelajaran Dua Sahabat
(Engels dan Marx)

Dunia pernah diharubiru oleh dua orang ini. Bahkan hingga saat ini. Seperti virus, pikiran dan sepakterjangnya cepat sekali menular. Mereka yang terpapar virus gagasan kedua orang ini, cepat sekali merasuk ke otak dan susunan syaraf sehingga berefek pada geliat tindakan yang bergelora dan sulit padam. Banyak dan mungkin mayoritas gerakan dan pergolakan sosial dimuka bumi mendapat inspirasi dan pasokan gagasan dari dua orang ini. Termasuk berbagai gerakan sosial yang terjadi sebelum dan sesudah kemerdekaan di Indonesia tak lepas dari inspirasi dua sahabat ini.

Kedua manusia istimewa ini adalah Friedrich Engels Dan Karl Marx. Sintesa pikiran kedua orang ini telah mewarnai perjalanan jagad manusia di hampir seluruh belahan Bumi.

Engels, yang namanya ramai disebut belakangan hari lantaran bertepatan dengan HUTnya tanggal 28 November. Ia dilahirkan dua abad lampau di sebuah kota yang sedang tumbuh geliat industrialisasi, Barmen, Jerman. Kelahirannya sangat digadang orang tua untuk mewarisi kerajaan bisnisnya. Oleh karena itu orang tua Engels sangat menjaga perkembangan anaknya untuk berada dalam jalur bisnis. Kehidupan Engles di setting tak jauh dari radius bisnis.

Mungkin bukan passionnya di dunia bisnis. Engels lebih tertarik pada aktifitas intelektual dan pergerakan. Disela kepatuhan pada orang tuanya untuk kerja di dunia bisnis, Engels suka keluyuran selepas kerja bergaul dengan kelompok studi dan aktvis pergerakan. Saat masih di Jerman, ia bertemu dengan para Hegelian muda yang cukup kritis dan radikal, meski kebanyakan para Hegelian waktu itu konservatif dan pendukung status quo. Engels bahkan terlibat dalam berbagai gerakan protes. Dari pergaulannya itu Engels mulai mendapatkan benih jiwa pergerakan.

Ayah Engels mencium gelagat anaknya yang mulai menaruh minat pada dunia pergerakan. Ia segera mengirimkan anaknya ke Inggris untuk kembali menekuni dunia bisnis. Namun upaya itu terlambat. Meski Engels bekerja disebuah perusahaan, kegiatan pergerakan tetap berjalan. Pertemuannya dengan para aktivis buruh dan kluyurannya dilingkungan kaum kumuh yang berdampingan dengan kehidupan mewah kaum borjuis semakin meneguhkan perjuangannya untuk melawan ketidakadilan.

Engels ketemu Marx untuk pertama kali saat perjalanannya dari Jerman menuju Inggris. Waktu itu Marx masih baru lulus doktor filsafat. Sama seperti Engels, Marx adalah anak muda yang kritis dan bersemangat. Keduanya saling merasakan ada senyawa pemikiran sejak pertemuan pertama.

Pertemuan Kedua, Engels dan Marx di Perancis. Marx tinggalkan Jerman karena tak puas perlakuan rezim yang suka mensensor tulisan tulisannya. Pertemuan keduanya di Perancis menjadi momen penting persahabatan antara Marx dan Engels. Mereka berdua membuat risalah polemik yang diberi nama ‘keluarga Suci’. Risalah ini kemudian dikirim ke kawan kawan Hegelian di Jerman. Dan Sejak itu pula persahabatan keduanya semakin kukuh tak terpisahkan.

Dari sejarah perjalanan duo sahabat itu, dapatlah dikatakan, bahwa kekuatan itu ada pada keduanya. Mereka saling melengkapi. Engels tak akan bisa suarakan idenya secara melengking tanpa melalui pena canggih Marx. Pun dengan Marx, gagasan cerdasnya tak akan ‘berkaki’ tanpa sentuhan pengalaman Engels. Kehadiran Engels membuat ide dan teori Marx menjadi praksis. Tanpa Engels, mungkin Marx hanya akan menjadi seorang akademik dibelakang meja Tanpa Engels, Marx mungkin hanya akan menjadi filsuf nyentrik macam Nietzsche.

Engels butuh Marx karena ide dan penanya yang sangat tajam dan bertenaga. Bahkan dalam berbagai kesempatan Engels memohon mohon Marx agar mau menulis atau melanjutkan tulisan. Pernah suatu ketika kaum pekerja atau aktifis buruh ‘sakau’ karena Marx lama tak menulis. Masa penantian itu sering disampaikan melalui telinga Engels. Disitulah Engels melakukan bujuk rayu agar Marx kembali menulis. Meski tak mudah dan kadang menjengkelkan, akhirnya bujuk rayu Engels berhasil. Marx kembali menulis. Satu dari 6 tulisan akhirnya terbit dan menjadi maha karya pertama Marx: Das Kapital, tahun 1867. (bersambung)

Des 2020­