Perginya Sang Rausanfikr

4f340928-54fb-4f96-85fb-0e34bfd45f98

Perginya Sang Rausanfikr

Kata Ali Shariati, intelektual itu ada dua jenis. Satu, intelektual tercerahkan dan satu lagi, intelektual teknokrat. Intelektual tercerahkan, kata pemikir Iran ini disebut rausanfikr. Intelektual tercerahkan adalah mereka yang menguasai ilmu pengetahuan dan memahami konteks sosial budaya masyarakatnya dan bekerja untuk perubahan yang berakar pada moralitas dan keadilan. Jenis intelektul ini berjuang sebagai pembebas yang menciptakan kesadaran kritis dikalangan masyarakat untuk melawan penindasan dan eksploitasi.

Sedangkan intelektual teknokrat adalah mereka yang menguasa ilmun pengetahuan tertentu atau spesialisasi tertentu, tanpa memiliki etika atau kesadaran sosial yang jelas. Mereka bekerja cenderung mengikuti kerangka sistem yang ada, tanpa berusaha mengubah struktur keadilan. Shariati mengkritik jenis intelektual ini karena hanya berfungsi sebagai alat kekuasaan status quo, tanpa mempertanyakan ketidakadilan yang terjadi disekitarnya.

Meminjam klasifikasi yang dibuat Shariati ini, saya berpendapat, sosok Faisal Basri adalah seorang raushanfikr. Dalam banyak tulisan atau diberbagai forum, Faisal Basri tidak hanya nenunjukkan penguasaan atas ilmunya, tetapi juga memiliki kekritisan dalam menyoroti berbagai ketimpangan sosial ekonomi. Ia tidak seperti dokter yang dingin menangani pasiennya, Faisal Basri bicara lantang dengan segenap pikiran dan perasaannya. Kegetirannya pada ketidakadilan sering diucapkan dengan bahasa keras dan vulgar.

Faisal Basri tidak hanya berkerja dengan otaknya, tetapi juga dengan hatinya. Dalam beberapa kesempatan perjumpaan dengannya, masih terngiang diingatan saya raut mukanya yang jengkel dan amarah melihat keadaan negerinya. Ia terlihat amat sensitif dan menyelami dinamika masyarakat dan karenanya rasa pembelaan itu terasa kuat.

Beberapa kali kami mengundangnya untuk menjadi narasumber diskusi. Amatan kami, meski di forum ia sering terlihat kritis dan lantang. Tapi di luar forum, Faisal Basri adalah sosok yang rendah hati dan santun. Ia juga sosok yang terbuka dan suka bercanda pada lawan bicara. Ia juga bukan intelektual elitis yang mau bicara pada kelompok tertentu. Gaya dan pilihan hidupnya adalah menjadi orang biasa dan bisa bergaul dengan siapa saja.

Maka, begitu mendengar kabar ia wafat, kami merasa kehilangan. Di saat negeri ini butuh sosok pemberani dan lantang suarakan ketidaadilan, ia harus pergi mendahului kita semua. Seorang kawan seperti tak rela dengan kepergiannya berucap getir, mengapa orang baik macam Bang Faisal harus pergi duluan? Mengapa bukan sosok lain yang saat ini hanya mementingkan diri sendiri dan menyokong status quo?

Tuhan punya cara dan rencana sendiri pada hambanya. Semoga kepergian Bang Faesal adalah cara Tuhan mencintai dan menyambut kekasihnya. Selamat Jalan Bang Faesal, semoga mendapat tempat terbaik di sisiNya dan segera bertemu kekasih abadi.

Sept 2024