Ini Salahku, bukan Salahmu
Ya, bukan salahmu. Ini salahku. Aku gagal meyakinkanmu tentang semua ini: bahwa keadaan sekolah kita tak baik-baik saja. Bahkan lebih dari itu, kondisinya sudah sangat buruk.
Ya, bukan salahmu. Ini salahku. Aku tak mampu menjelaskan dengan baik bahwa di tempat itu anak-anak kita seperti tidak mendapatkan apa-apa. Mereka bukan bodoh, tetapi mereka menjadi bodoh bodoh-sebodohnya. Mereka tidak gemar membaca, kemampuan bernalarnya rendah, dan nyaris tak memiliki wawasan sebagaimana mestinya anak-anak yang telah bertahun-tahun duduk di bangku sekolah.
Mungkin kamu sulit percaya bahwa hingga kini masih banyak siswa sekolah menengah kita tidak mampu membaca dengan baik. Mereka sungguh-sungguh tidak bisa membaca. Dan jangan tanya bagaimana mungkin mereka tetap naik kelas hingga mencapai jenjang menengah. Kenyataannya memang demikian. Sebagian dari keadaan itu telah diberitakan di media.massa.
Mungkin kamu juga tak percaya, dan aku pun belum mampu meyakinkanmu, bahwa di antara mereka yang bisa membaca, sebagian besar tidak memahami apa yang dibacanya. Mereka mengalami apa yang oleh Bank Dunia disebut learning poverty atau kemiskinan dalam pembelajaran, yang ditandai mampu membaca, tetapi gagal memahami isi bacaan. Tapi tahukah kamu, ada yang lebih mencengangkan, bahwa persoalan itu juga terjadi pada banyak lulusan perguruan tinggi. Itu bukan pendapatku. Menteri Pendidikan Tinggi kala itu, Satrio Sumantri, pernah menyampaikan dalam satu pidatonya, bahwa kegagalan memahami bacaan menjadi salah satu persoalan utama lulusan perguruan tinggi menurut para pengguna tenaga kerja. Kenyataan itu memang pahit dan sulit dipercaya, tetapi begitulah adanya.
Mungkin kamu juga heran melihat ramainya video viral di media sosial tentang siswa sekolah menengah yang gagal menghitung matematika dasar, tidak mengenal nama ibu kota, atau tidak memahami singkatan-singkatan populer. Tentu, media sosial itu tidak sedang mencari sensasi. Fenomena itu muncul di banyak tempat dan berulang kali terjadi.
Aku sendiri tidak terlalu terkejut. Bagiku, semua itu hanya mengonfirmasi hasil survei PISA. Selama lebih dari dua dekade, capaian PISA Indonesia menunjukkan hasil jeblog. Jika dikaitkan dengan Taksonomi Bloom, kemampuan mayoritas siswa kita masih berada pada level paling dasar: menghafal. Mereka mungkin bisa membaca, tetapi tidak memahami isinya. Karena itu, hasil PISA mengkonfirmasi kenyataan yang kini ramai terlihat di media sosial.
Ya, bukan salahmu. Ini salahku. Aku juga gagal meyakinkanmu bahwa pendidikan tidak selalu berbanding lurus dengan nilai dan moralitas. Sekolah tidak otomatis melahirkan manusia bermoral. Karena itu, jangan heran jika pelaku korupsi justru banyak berasal dari kalangan terdidik, bahkan memiliki deretan gelar akademik. Maraknya korupsi dan berbagai penyimpangan, terutama di kalangan penyelenggara negara, menjadi tanda bahwa sekolah gagal menanamkan nilai dan integritas dalam kehidupan nyata.
Ya, bukan salahmu. Ini salahku. Aku gagal meyakinkanmu bahwa sekolah kita sedang mengalami kemunduran yang serius. Seorang pakar dari universitas ternama mengatakan bahwa pendidikan kita mengalami kemunduran 128 tahun. Di tengah dunia yang bergerak cepat oleh perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekolah kita seolah masih baru mulai belajar membaca dan berhitung dasar.
Begitulah potret umum pendidikan kita hari ini. Namun anehnya, kondisi itu tak banyak membuat orang bersedih, marah, atau merasa perlu memberontak terhadap keadaan itu. Semua berjalan seperti biasa, seakan tidak ada terjadi apa-apa. Ajaib.
Mungkin jalan pikiranku salah, atau sesat, sehingga kamu menganggapku angin lalu. Tapi cobalah koreksi dan gugurkan data dan argumenku. Andai pandanganku benar, aku ingin bilang padamu: ayo segera berbuat, lakukan apa yang bisa dilakukan, selamatkan generasi ini.






