Gratis adalah salah satu kata menarik dalam kehidupan warga. Kata itu sederhana, pendek, tetapi memiliki daya tarik psikologis yang sangat kuat. Banyak orang langsung tertarik ketika mendengar kata itu seperti barang gratis, sekolah gratis, layanan gratis, hingga makan gratis.

Tapi penggunaan kata gratis kurang tepat ketika dipakai pemerintah kepada rakyatnya. Sebagai contoh kata gratis pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah bukanlah lembaga yang menghasilkan uang secara mandiri. Seluruh anggaran negara pada dasarnya berasal dari rakyat melalui pajak, retribusi, pengelolaan sumber daya alam, hingga berbagai penerimaan negara lainnya.

Karena itu, ketika pemerintah memberikan layanan pendidikan, kesehatan, subsidi, bantuan sosial, atau program publik lainnya, sebenarnya layanan tersebut tidak gratis. Rakyat sudah ikut membiayainya secara kolektif.

Selain kurang tepat secara konsep, penggunaan kata ‘gratis’ dalam kebijakan publik juga cenderung bersifat politis. Kata itu memiliki kekuatan besar dalam membangun citra dan simpati masyarakat. Program berlebel ‘gratis’ sering menjadi sarana kepentingan kelompok tertentu sebagai investasi politik.

Dalam sistem demokrasi, rakyat adalah pemilik kedaulatan sekaligus sumber utama pembiayaan negara. Pemerintah bekerja menggunakan mandat dan uang rakyat. Karena itu, layanan publik semestinya dipahami sebagai bentuk tanggung jawab negara, bukan sedekah negara kepada rakyat. Jadi, kata gratis itu tidak tepat, untuk tak mengatakan sesat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *