Tan dan Kebangkitan Nasional Jilid Dua
Rasanya benar apa kata Tan Malaka. Bangsa ini belum merdeka. Kemerdekaan hanya untuk kaum elit. Hanya mereka yang punya kuasa dan akses yang benar-benar menikmati buah kemerdekaan. Sementara rakyat kebanyakan tetap terbelenggu dalam kemiskinan, ketidakadilan, dan ketidakberdayaan.
Tan Malaka sudah mengingatkan hal ini sejak 24 Januari 1946, ketika ia bertemu dan berbicara di depan sahabatnya: Sukarno, Hatta, dan Agus Salim. Bagi Tan, kemerdekaan yang diraih saat itu semu. Ada yang salah dalam mengartikan kemerdekaan, karena kemerdekaan yang diraih tidak dirancang untuk kemashlahatan bersama. Ia memilih menjadi oposisi, dan memilih jalan perlawanan hingga Indonesia benar-benar merdeka 100%.
Kini, hampir delapan dekade setelah proklamasi, perkataan Tan Malaka terbukti benar. Ucapan Tan terasa semakin relevan. Kemerdekaan masih menjadi milik segelintir elit. Kekayaan nasional dikuasai oleh segelintir orang, seperti dulu dilakukan para kolonialis, sementara mayoritas rakyat hidup dalam kepapaan dan ketidakpastian.
Demokrasi hari ini bukan wujud rakyat berkuasa, melainkan hanya lipstik, indah sebagai citra. Karena suara rakyat diinjak oleh kepentingan politik dan ekonomi para pemilik modal. Rakyat masih mengalami bentuk penjajahan baru—penjajahan oleh sistem yang tidak adil, oleh para elit yang menguasai sumber daya, dan oleh kebijakan yang tidak memihak rakyat kecil.
Kemerdekaan sejati berarti kebebasan dari penindasan, keadilan sosial, dan kesejahteraan merata. Indonesia masih jauh dari cita-cita itu. Inilah yang disebut Tan Malaka sebagai “kemerdekaan semu”. Kemerdekaan yang hanya mengubah wajah penjajah dari asing menjadi anak bangsa sendiri. Kolonialisme fisik mungkin sudah berakhir, tetapi penjajahan dalam bentuk baru—ekonomi, politik, dan budaya—masih sangat nyata.
Jika menyimak kondisi saat ini, seruan Tan masih relevan: merdeka100 %. Kemerdekaan seutuhnya harus kembali direbut, untuk kemashlahatan bersama. Semua anasir penjajahan harus disingkirkan.
Saat ini kita memerlukan kebangkitan nasional jilid 2. Jika Kebangkitan Nasional 1908 menjadi awal kesadaran kolektif melawan penjajahan fisik, maka sekarang kita memerlukan kebangkitan serupa untuk melawan penjajahan baru dengan segala manifestasinya.
Kita sedang memerlukan sosok-sosok baru. Negeri ini sekarang butuh Soekarno-Sukarno baru, Hatta-Hatta baru, Agus Salim-Agus Salim baru, Cokro-cokro baru dan seterusnya. Kita.memerlukan sosok-sosok tercerahkan dan mencerahkan anak-anak bangsa untuk memiliki harapan atas kehidupan yang lebih baik dan membanggakan.
Kita merindukan hadirnya tokoh-tokoh yang bukan hanya menjadi panutan dan kebanggaan rakyat, tapi juga panutan dan kebanggaan dunia seperti dulu pernah dilakakukan para pendahulu. Kebangkitan nasional jilid dua harus kembali menggema, memanggil tiap anak bangsa memberi kontribusi untuk negeri.
Jika belajar dari Pahlawan Nasional asal Sumatera Barat itu, perjuangan belumlah selesai, merdeka belum 100%, sejarah masih harus diukir. Bapak republik itu telah memilih jalan mendaki, menuju kemerdekaan hakiki, bukan kemerdekaan semu, yang hanya segelintir orang menikmati. Sebagai generasi penerus bangsa, seruan Tan adalah pilihan yang menantang.






