Manusia: Makhluk Rasional?

1759295708956

Manusia, Binatang Rasional?

Sejak Aristoteles, manusia kerap dijuluki zoon logon echon—binatang yang berakal. Julukan itu kemudian diwarisi oleh teori ekonomi modern, yang berasumsi bahwa manusia adalah makhluk rasional: selalu memilih yang terbaik, yang paling menguntungkan, dan yang paling efisien. Dari sinilah lahir konsep homo economicus, manusia ekonomi yang bertindak dengan logika perhitungan.

Jika mencermati praktek di lapangan, kenyataan sehari-hari membantah idealisasi tersebut. Manusia tidak selalu rasional. Dalam banyak hal, justru irasionalitaslah yang mendominasi tindakan manusia. Pilihan-pilihan hidup sering digerakkan bukan oleh kebutuhan yang terbatas, melainkan oleh keinginan yang tak berbatas. Kebutuhan dapat dicukupkan, tetapi keinginan tidak pernah selesai.

Ironinya, kecenderungan irasional inilah yang justru menjadi fondasi bagi ilmu ekonomi. Aktivitas produksi, konsumsi, hingga distribusi tidak lagi berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia, melainkan pada pemuasan keinginan tanpa ujung. Industri didorong untuk menciptakan barang dan jasa yang sering kali bukan kebutuhan, melainkan keinginan artifisial. Reklame, citra, dan gaya hidup diciptakan untuk menyalakan hasrat baru yang tak pernah padam.

Implikasinya jelas: kegiatan ekonomi manusia cenderung destruktif. Alam diperas habis-habisan, bukan untuk sekadar memenuhi kebutuhan pokok, tetapi untuk memenuhi keinginan yang tak kenal batas. Binatang berhenti berburu ketika kenyang, tetapi manusia tidak pernah tahu kapan harus berhenti mengambil dari bumi. Hasilnya adalah krisis ekologi: hutan yang gundul, laut yang tercemar, udara yang kotor, iklim yang rusak.

Lebih dari itu, irasionalitas manusia juga menghantam tatanan sosial. Keinginan untuk menumpuk kekayaan dan kuasa melahirkan kesenjangan sosial yang lebar. Sebagian kecil orang menikmati surplus berlebih, sementara sebagian besar lainnya berkekurangan. Ilmu ekonomi yang lahir dari asumsi rasionalitas justru menormalisasi irasionalitas itu, seakan kesenjangan adalah konsekuensi tak terhindarkan dari “mekanisme pasar.”.

Banyak pemikir, meski berbeda arah, sebenarnya mengingatkan hal yang sama: bahwa rasionalitas ekonomi yang semata-mata mengejar keuntungan justru melahirkan irasionalitas kolektif—kerusakan alam, ketimpangan sosial, dan kekerasan antarmanusia. Daya rusak manusia yang mengaku rasional jauh melampaui binatang, sebab tidak ada hewan yang menciptakan bencana ekologis global atau menindas sesamanya dengan sistem yang terstruktur.

Pertanyaan besar pun mengemuka: masih pantaskah manusia disebut binatang rasional, atau justru binatanglah yang lebih rasional karena tahu kapan harus berhenti? Mungkin benar bahwa manusia berakal, tetapi akalnya sering menjadi alat pembenaran bagi keserakahan. Rasionalitas yang dibanggakan justru menjelma irasionalitas yang sistematis.

Karena itu, diperlukan evaluasi ulang terhadap pandangan kita tentang manusia dan ilmu ekonomi. Rasionalitas sejati seharusnya tidak hanya menghitung untung-rugi pribadi, tetapi juga menimbang keseimbangan hidup bersama—antara manusia dengan manusia, dan antara manusia dengan alam. Ilmu ekonomi perlu diarahkan kembali agar lebih bersahabat, tidak hanya dengan kebutuhan manusia, tetapi juga dengan keberlanjutan lingkungan.

Dengan kata lain, kita membutuhkan tatanan baru. Tatanan yang tidak menjadikan keserakahan sebagai mesin, melainkan kebijaksanaan sebagai penuntun. Sebuah tatanan di mana ilmu pengetahuan, khususnya ilmu ekonomi, tidak lagi berakar pada ilusi rasionalitas, melainkan pada kesadaran akan batas, keseimbangan, dan tanggung jawab. Hanya dengan itu manusia bisa benar-benar layak disebut rasional.