Screenshot_20250906_121017_Facebook

NGOPI

Ngopi. Sebuah kata yang kini populer. Pengertiannya tak lagi sekedar minum. Ngopi telah mendapat makna dan nuansa baru. Ngopi identik santai, rileks, berbincang mengalir dan lepas. Ngopi juga berarti suasana informal, tanpa beban atau tekanan.

Manusia kini mungkin punya pergerakan tinggi. Sibuk. Orang bekerja seharian. Tak jarang sebagian orang bekerja dalam tekanan. Sebagian lain menjalani rutinitas dari waktu ke waktu, melakukan hal yang kurang lebih sama. Sebagian lain lagi baraktifitas dalam suasana formal.

Rutinitas, formalitas, tuntutan kerja sering membuat orang ‘kehilangan’ diri. Orang cenderung bergerak ‘keluar’. Ruang untuk diri tertutup rapat, terkunci dan sunyi. Dalam ruang ini hawa menjadi pengap.

Orang tak bisa bertahan dalam ruang kepengapan. Diri secara alamiah butuh ekspresi dan aktualisasi apapun bentuknya. Maka bermunculan aktivitas untuk membuka diri menghirup udara segar. Ventilasi itu bermacam bentuk, seperti rekreasi, tenggelam dalam komunitas-komunitas, reuni, dll.

Ngopi salah satu jenis ventilasi kehidupan masa kini. Menjamurnya coffe hingga anggkringan adalah bentuk ruang sosialisasi baru yang lebih longgar, hangat dan bebas. Di tempat seperti ini orang kembali “menjadi’ manusia setelah sekian waktu alami apa yang dinamakan Marx sebagai alianasi (semacam keterasingan diri).

Idealnya orang bekerja berimpit dengan makna. Bekerja itu penuh kegembiraan. Bekerja itu ruang aktualisasi diri. Dalam keadaan ini, kerja adalah insentif, karena dengan menjalani pekerjaan itu, orang menikmati. Bekerja berimpit dengan ‘bermain’ penuh kegembiraan.

Sayangnya tidak banyak orang mendapatkan suasana itu. Umumnya kerja berjarak dengan suasana hati. Kerja adalah beban. Kerja adalah tekanan sehingga orang butuh waktu melepas semua itu. Ngopi salah satu solusi.