Trauma dan Cinta
Trauma dan Cinta
Lelaki yang duduk didepanku siang itu cerita tentang trauma. Ia pernah menemani istrinya melahirkan. Betapa dahsyatnya pengalaman yang ia saksikan. Sungguh berat sakit yang harus ditanggung seorang ibu. Begitu kira-kira yang mau diucap lelaki yang bekerja sebagai tukang bangunan.
Setelah kejadian itu ia trauma. Lelaki muda yang tampak gagah perkasa itu tak tega melihat istrinya menderita kesakitan. 11 tahun sejak anak pertamanya, ia menunda program kelahiran.
“Sudahlah, lelaki jangan meresa lebih perkasa dari perempuan,” katanya.
Beratnya yang dilakukan lelaki, tak ada seujung jari yang dirasakan saat seorang wanita melahirkan. Lelaki juga jangan sok hebat dari perempuan. Mengandung 9 bulan, melahirkan, menyusui, merawat dan mengasuh sejak jabang bayi, adalah perjuangan perempuan yang tak mungkin ditanggung para lelaki.
Sejak saat itu, si lelaki didepanku, sangat menyayangi dan menghormati istrinya. Ia bilang kalau tak berani keras atau kasar sama istrinya. Pun pada anaknya, dia selalu mengingatkan untuk sayang dan berbhakti pada ibunya. Beratnya derita ibu saat melahirkan tak terbalaskan oleh anak. Begitu kira-kira yang selalu dipesankan.
Siang itu aku mendapatkan pelajaran berharga dari pengalaman seseorang. Pasti kucatat dalam ingatanku. Sebelum berpisah kubilang padanya, aku pernah melakan hal yang sama. Hanya cinta yang bisa dilakukan seorang lelaki untuk membayar sepadan dengan beratnya derita istri atau ibunya.






