Dilema Demokrasi
Demokrasi dipertanyakan tak hanya hari ini. Sejak plato (400 SM) demokrasi sudah dikritik. Plato menilai demokrasi sebagai sistem terburuk setelah tirani. Kebanyakan orang itu umumnya bodoh. Menyerahkan pemimpin pada orang awam itu berbahaya. Demokrasi seperti memilih nahkoda kapal berdasarkan pandangan penumpang. Dalam demokrasi, yang menang bukan yang ahli dan bijak, tapi para demagog yang pintar pidato dan jual janji manis.
Socrates adalah ‘korban’ demorkasi. Ia dihukum lewat voting warga. Dosa terbesar Socrates adalah mencerdaskan kehidupan anak muda, yang membuat mereka punya pandangan kritis. Kekritisan adalah ancaman berbahaya, khususnya bagi penguasa.
Saat Socrates dihukum mati, Plato syok dan ninggalin dunia politik yang bodoh itu. Ia kemudian mendirikan Akademia, kampus pertama di dunia Barat, dan mengajar di situ. Salah.satu murid cemerlang yang mungkin lebih bersinar dari dirinya: Aristoteles.
Tapi begitulah demokrasi. Perilaku bodoh, kerdil, rakus bercampur dalam satu adonan demokrasi. Para pejuang demokrasi harus sadar itu. Pemimpin tiran dan perbuatan menghukum a la Socrates atau sejenisnya adalah bagian dari genetik demokrasi.
Memulihkan demokrasi yang sehat adalah mencerdaskan warga. Pada warga yang berfikir sehat akan lahir wakil rakyat, UU dan pemimpin yang terpercaya. Tapi bagaimana membuat warga terpelajar seperti yang diimpikan Plato? Itu pekerjaan rumah para pegiat demokrasi. Salah satu caranya pasti menggunakan metode Socrates, yakni membuat warga punya sikap kritis.
Dan hari ini kita menyaksikan bagaimana ‘hukum demokrasi’ itu bekerja. Para penguasa demagog itu sedang mengejar dan menghukum ‘murid-murid’ Socrates dengan bermacam dalih. Pada saat yang sama tentu, mereka sedang menyiapkan racun bagi siapapun yang mengambil peran Socrates.






