Marah, Demo dan Anarkisme
Marah, Demo, dan Anarkisme
Marah itu energi. Ia bergejolak di dalam dada, menunggu celah untuk menyembur. Kadang ia berbentuk kata-kata tajam, kadang dalam raut muka yang mengeras, kadang dalam isak air mata, kadang dalam teriakan yang menggetarkan. Tetapi sering pula marah justru hadir dalam diam. Diam yang tampak teduh, namun sesungguhnya menyimpan bara.
Kata-kata kasar bisa menyakitkan, tapi itu setidaknya sebuah ventilasi. Sesudah itu, ada kemungkinan reda. Sebaliknya, diam yang memendam marah adalah bara yang menunggu angin. Ia meresap ke bawah sadar, mengendap perlahan, lalu bergolak seperti badai. Jika pemicu datang bertubi-tubi, gejolak itu bisa pecah menjadi letusan yang tak terduga: depresi, psikosomatis, bahkan kematian yang dipilih sendiri. Berapa banyak kisah orang pendiam yang tiba-tiba mengakhiri hidupnya, atau menimpakan luka kepada orang lain? Semua itu bukan kebetulan. Ia adalah perjalanan panjang dari marah yang terlalu lama disimpan.
Begitu pula dengan masyarakat. Luka kolektif yang tak kunjung diobati, perlahan menjadi api dalam sekam. Rakyat menanggung misalnya gagal panen, biaya hidup yang kian menghimpit, harga kebutuhan yang terus merangkak, tanpa ada pelindung yang benar-benar hadir. Bantuan sosial mungkin sesekali turun, tetapi hanyalah tetes di atas gurun.
Pada saat yang sama, mereka menyaksikan tontonan getir: korupsi yang makin menggila, pesta pora elite yang ditampilkan tanpa malu, kebijakan yang justru menambah beban. Semua itu bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan juga penghinaan pada rasa keadilan.
Maka rakyat tetap bekerja seperti biasa, wajar. Tetapi di balik kewajaran itu tersimpan diam yang berbahaya. Diam yang sesungguhnya adalah sekam kering: cukup satu percikan, dan ia akan menyala menjadi api.
Karena itu, demo anarkis yang terjadi bukan semata urusan dalang atau penunggang. Mungkin ada yang mengatur, mungkin ada yang menyalakan. Tetapi api takkan berkobar bila tidak ada bahan bakarnya. Dan bahan bakar itu adalah tekanan sosial-ekonomi yang menjadi amarah kolektif yang lama terpendam, luka sosial yang terlalu lama dibiarkan.
Di titik ini, yang penting bukan lagi menuding siapa. Yang mendesak adalah menumbuhkan kembali rasa percaya: bahwa negara ada untuk rakyat, bahwa pemerintah berpihak pada yang lemah, bahwa perlindungan itu nyata. Tanpa itu, percikan sekecil apapun akan selalu berbahaya.
Namun satu hal perlu diingat: marah itu selalu meninggalkan jejak. Ia bisa menyembuhkan bila tersalurkan dengan benar, tetapi bisa pula melukai dalam-dalam bila dibiarkan tanpa arah. Dan marah, sering kali, tak tunduk pada logika. Ia menciptakan logikanya sendiri.
Hari-hari ini kita menyaksikan pertunjukan marah. Bukan lagi marah seorang, melainkan marah berjamaah. Suaranya membahana di jalanan, membawa tuntutan yang kadang terdengar mustahil. “Bubarkan DPR!” teriak mahasiswa. Apakah itu masuk akal? Mungkin tidak, dalam kacamata dingin logika. Tetapi marah tidak selalu bicara dengan logika. Ia bicara dengan luka, dengan kecewa, dengan kejengkelan yang panjang.
Mahasiswa tentu bukan kawanan tanpa akal. Mereka hidup dari pengetahuan, berpikir dengan nalar. Tuntutan itu bukan sekadar mainan kata, melainkan bahasa puncak dari rasa tidak lagi diwakili, dari tubuh politik yang tak lagi menunjukkan empati, dari amanah yang terasa dikhianati. “Bubarkan!” adalah kata paling singkat untuk mengatakan: jangan main-main dengan rakyat.
Maka jangan terburu menilai tuntutan mereka. Sebab di balik kata-kata yang tampak ekstrem, ada pesan sederhana yang seharusnya jelas: negara ini dibentuk bukan untuk pesta para elite, melainkan untuk melindungi dan menyejahterakan rakyat. Bila yang terjadi sebaliknya, maka jangan heran bila marah itu datang diam-diam, mengendap, lalu tiba-tiba menyala.






