Pelajaran Kecil dari Sosok Besar
Pelajaran Kecil Dari Sosok Besar
Wajahnya selalu terlihat serius. Lebih-lebih saat bicara, ekspresinya tampak meledak-ledak. Seluruh yang ada pada dirinya seolah turut bicara. Mulai dari bibirnya, matanya, tangannya dan gerak-gerik tubuhnya seolah mewakili dirinya.
Namanya Marie Muhammad. Saya biasa memanggilnya Pak Marie. Kadang mantan Dirjen Pajak itu dipanggil dengan inisial MM, singkatan dari namanya.
Dulu ia bekerja di Departemen Keuangan pada masa Orde Baru. Karirnya cemerlang. Itu yang membuat ia sampai pada posisi puncak birokrasi sebagai Dirjen Pajak. Setelah itu Presiden Soeharto mempercayakan padanya sebagai Menteri Keuangan.
Saat menjabat, boleh dibilang ia birokrat legendaris. Sosoknya dikenal lurus. Soal integritas jangan ragukan. Media kala itu menyebutnya sebagai ‘Pak Bersih’ (Mr Clean). Julukan itu tentu tidak serta merta. Di lingkungan korup Orba, masih ada sosok yang berani tegak menjaga ‘kebersihan diri’.
Bagi saya, Ia adalah pelajaran hidup. Seseorang bisa tetap memilih jalannya sendiri, dengan ukurannya sendiri, meskipun arus disekitarnya punya warna lain. Pelajaran itu bernama keteguhan dan konsistensi.
Banyak jejak-jejak yang saya ingat sepanjang bersamanya. Kesimpulan saya, Ia seorang aktifis sejati. Sepak terjangnya tak pernah kendur meski sudah pensiun. Pikirannya seperti tak 0p0100pp0] bangsa dan negaranya, melebihi dirinya sendiri. Pak Marie salah satunya. Dedikasinya pada bangsa dan negara tak lekang termakan waktu.
Kami biasa menjadi ‘keranjang sampah’, ketika Pak Marie risau oleh kondisi negara. Diajaknya kami yang masih bau kencur ini diskusi persoalan negara. Kejadian itu tak sekali dua kali. Kami sering menghabiskan obrolan negara hingga larut malam. Tempatnya bisa di kantor atau kami mendatangi rumahnya.
Masih terngiang diingatan saya, ketika diundang ke rumahnya. Sebelum diskusi, biasanya didahului makan bersama. Bu Marie sering menyuguhkan menu istimewa: nasi kebuli. Itu pertama kali saya menikmati nikmatnya masakan nasi kebuli. Setelah itu kami duduk melingkar lesehan di karpet ruang tamu. Pak Marie biasanya menyambut kami cukup mengenakan kaos oblong dan sarung kebesarannya. Gaya khas santri.
Sisi lain, selain urusan pergulatan pikiran. Saya melihat Pak Marie sosok humanis. Pada kami yang muda, ia amat ramah dan santun. Semua yang ditemui disapanya dengan ramah, termasuk OB. Pada yang muda Ia tak hanya bicara, tapi juga mendengar.
Apa yang ingin saya ceritakan ini adalah tentang kerendahan hati sosok besar yang dikenal publik luas. Ia menampilkan diri menjadi manusia biasa dan berbuat seperti layaknya orang biasa. Ia tak peduli pada popularitas dan citra besar yang melekat pada dirinya. Dengan santai dan santun ia tak segan mendatangi pernikahan seorang staf muda yang belum lama dikenalnya. Ia tak canggung duduk lesehan bersama warga dan keluarga mempelai. Inilah salah satu kebesaran sosok Pak Marie menurut saya, yakni keberaniannya tampil menjadi manusia biasa.
Saya menuliskan kembali tentang sosok satu ini lantaran menemukan jejak foto yang tersimpan di media sosial. Beliau kini telah wafat, tapi jejaknya masih hidup diingatan saya, dan mungkin diingatan publik. Saya membuat tulisan ini dengan ekspresi penuh kerinduan. Rindu pada Pak Marie dan rindu pada hadirnya sosok besar, penuh teladan, sederhana dan berani tampil menjadi orang biasa.






