Baju Kemerdekaan
Baju Kemerdekaan
Seberapa berani kita, sebagai sebuah bangsa, menatap cermin dan bertanya: siapa kita hari ini? Sampai di manakah langkah kita, bila diukur dari cita-cita dan kehendak yang pernah diikrarkan para pendahulu? Apakah kita sungguh bergerak menuju arah yang kita tentukan sendiri, atau justru perlahan tergiring menjadi sosok baru—lahir dari tuntutan keadaan, cita-cita yang bergeser, atau sekadar penyesuaian atas dunia yang berubah?
Jika perubahan adalah sesuatu yang tak bisa dihindarkan, sudahkah kita menerimanya dengan penuh kesadaran? Atau jangan-jangan, yang kita sebut “diri baru” itu justru menghadirkan rasa asing dalam jiwa kita sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini seharusnya tidak pernah berhenti kita ajukan. Sebab perjalanan sebuah bangsa hanya akan meninggalkan jejak yang kokoh jika berpijak pada akar sejarah dan pengalaman panjangnya. Dengan bertanya, kita menggugat kenyataan hari ini; dengan menggugat, kita menjaga agar langkah-langkah kita tidak melenceng terlalu jauh dari jati diri.
Namun, sungguhkah kita berani? Rasanya tidak. Kita kerap takut pada konsekuensi dari menjadi diri sendiri. Kebebasan kebangsaan yang mestinya membara seperti api revolusi, sering kali redup sebelum sempat menyala. Kita memilih jalan paling mudah: menyerahkan kebebasan yang sudah diperoleh dengan susah payah, lalu mengikuti arus kehendak yang bukan kita rumuskan sendiri, mengusung cita-cita yang bukan lahir dari mimpi kita.
Begitulah, perlahan-lahan kita rela menjadi sekadar fungsi dari sesuatu yang asing: modernisasi, globalisasi, atau nama lain yang datang dari luar diri kita.
Betapa ironisnya ketika kegagalan dan keberhasilan bangsa ditentukan oleh pihak lain. Lebih ironis lagi, ketika kita sendiri merestui keadaan itu, menggenggamnya erat, seolah-olah tak ada jalan lain.
Pada titik inilah baju kemerdekaan itu koyak. Kita sendiri yang menanggalkan kebebasan, menyerahkannya kembali kepada penjajah yang kini tak perlu lagi datang dengan pasukan dan senjata. Dahulu, kolonialisme hadir dengan wajah garang, dengan kekuatan logistik dan paksaan. Kini, tanpa paksaan sedikit pun, kita justru menyerahkan diri secara sukarela.
Kolonialisme zaman ini tidak mahal, tidak perlu mengorbankan banyak tenaga. Cukup karena kita sendiri yang bersedia tunduk dengan cara murahan. Maka baju kemerdekaan itu, yang dulu dijahit dengan darah dan air mata, kini tampak kusam—robek di sana-sini.
Oktober 2021






