unnamed (46)

Filsafat dan Kolonialisme Baru

Kata filsafat seakan identik dengan sesuatu yang abstrak, sulit, dan rumit. Mempelajari filsafat terasa menuntut tingkat kecerdasan tertentu, atau seakan hanya bagi mereka yang memiliki otoritas untuk bisa memahaminya secara paripurna.

Studi filsafat juga selalu mengarah pada alam pikir entitas tertentu dan pada waktu tertentu. Mereka yang belajar filsafat umumnya diajak berkelana jauh ke masa silam, hingga ke zaman sebelum Masehi, lalu diperkenalkan pada sejumlah tokoh dari peradaban tertentu—dalam hal ini Yunani Kuno. Setelah itu, mereka diajak kembali ke “Yunani Baru”, yakni Eropa pada abad pertengahan. Dari situlah filsafat kemudian menjadi standar pengetahuan sekaligus induk segala “mata pelajaran.”

Secara faktual, penggalian filsafat Yunani Kuno menjadi energi pencerah Bangsa Eropa yang melahirkan alam pikir baru dan menumbangkan alam pikir lama, yang kemudian disebut sebagai Abad Kegelapan.

Pada era pencerahan ini, filsafat melahirkan banyak cabang—“jabang bayi” ilmu pengetahuan modern dan berbagai penemuan, salah satunya yang mendorong revolusi industri. Gerak ilmu pengetahuan dan teknologi semakin tak terbendung, menggelinding tidak hanya di Benua Eropa, tetapi juga merambah ke dunia lain. Ekspansi ke luar itu pada mulanya berupa kolonialisme, dan pada abad ke-20 menjelma menjadi kolonialisme baru dalam bentuk ide, konsep, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan.

Hari ini, di hampir semua belahan bumi, kita dibuat seragam. Mulai dari alam pikir, gaya hidup, aksesori kehidupan, ukuran-ukuran keberhasilan, hingga mimpi-mimpi masa depan—semuanya dibentuk seragam atas nama modernisasi. Kita, yang konon adalah bangsa merdeka dan dengan kemerdekaan itu seharusnya bisa berkehidupan kebangsaan, justru menyerahkan kebebasan tersebut dan memilih “berserah diri” pada derap gegap-gempita kehidupan modern. Melalui “mesin pembangunan” yang hampir sepenuhnya mengandalkan perangkat modern, kita diarahkan menuju masyarakat baru, menuju “manusia baru,” dengan ukuran-ukuran yang relatif seragam di seluruh belahan bumi.

Padahal, filsafat bukan hanya milik masyarakat Yunani Kuno atau Yunani Baru. Semua entitas masyarakat atau kebudayaan memiliki pandangan filsafatnya sendiri. Bangsa Indonesia, misalnya, dengan beragam sub-suku bangsa, tentu memiliki filsafat dalam memandang kehidupan. Perilaku sosial-budaya tiap entitas pun cenderung merujuk pada pandangan atau falsafah hidup yang menyertainya. Jika bangsa Eropa menggali alam pikirnya dan menapaktilas hingga ke masa lalu yang jauh, itu relevan dan kontekstual dengan kehidupan mereka pada waktu itu. Maka, pada saat yang sama, kita sebagai bangsa merdeka mestinya juga sadar sejarah, dengan menggali alam pikir dan warisan masa lalu kita sendiri. Faktanya, kita memang memiliki pandangan filsafat sendiri dan cara berkehidupan sendiri.

Namun begitulah, arus kehidupan modern makin hari makin digdaya dan paripurna. Kekuatan-kekuatan lain di luar arus modern menjadi inferior dan subordinat. Ekspansi keluar itu pada mulanya dalam bentuk kolonialisme yang pada abad 20 ekspansi itu berwujud kolonialisme baru dalam bentuk ide, konsep, ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan.

Masalahnya adalah: apakah kita rela didikte oleh suatu kehidupan dengan filsafat hidup dan sejarah yang bukan berasal dari kita? Apakah kita cukup kuat untuk bertahan sebagai “manusia lain” yang kehilangan akar sejarah dan budaya sendiri?

Panggilan sejarah dan kepahlawanan baru pada hari-hari ini adalah kebangkitan kesadaran: kesadaran untuk mengembalikan harkat dan martabat kita sebagai bangsa yang merdeka dari intervensi pihak lain. Spirit kemerdekaan mesti ditumbuhkan kembali, agar kita berani membangun masa depan dengan “suku cadang” sejarah dan kebudayaan kita sendiri, dengan segala kekayaan yang dimilikinya. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi bangsa budak, pengekor, dan ironisnya—melakukannya secara sukarela.

Okt 2021