Siapa Kita
Siapa Kita
Puncak dari perkembangan alam pemikiran manusia adalah positivisme. Pada posisi ini manusia percaya sepenuhnya pada ilmu pengetahian dan tidak lagi berpandangan ada kekuatan lain di dalam ‘benda benda’ (teologi) atau ada kekuatan adikodrati dibalik dinamika alam (metafisika). Evolusi pemikiran ini dicetuskan oleh August Comte (1798-1857) sosok yang dijuluki Bapak Sosiologi. Dari Comte nama sosiologi pertama kali diperkenalkan.
Istilah Positivisme digunakan pertama kali oleh Saint Simon (sekitar 1825) Basis sekaligus tesis positivisme adalah empirisme, yang menolak segala bentuk kekuatan atau subyek dibalik fakta. Dan Sain adalah satu satunya pengetahuan valid.
Era modern adalah puncak singgasana pemikiran manusia dimana ilmu pengetahuan menjadi nafas utama. Pada era ini, manusia percaya pada dirinya sendiri dalam mengatasi permasalahan kehidupan. Manusia dengan segala akal budinya adalah pusat semesta (anthroposentrisme).
Pada singgasana puncak kehidupan ini, mestinya tak ada lagi takhayul, suatu alam pikir yang masih meyakini adanya dimensi atau kekuatan lain dibalik fakta atau gejala.
Pada prakteknya, dinamika manusia tidak selinier yang digambarkan oleh Comte. Setidaknya pada masyarakat kita, arus modernisasi yang bergerak begitu kencang tak sepenuhnya menggoyahkan pikiran yang sifatnya teologis dan metafisika. Bahkan para akademisi dan ilmuan yang sudah relatif mengimani empirisme sain masih mempercayai hal hal ghoib kehidupan.
Apalagi dalam kehidupan sehari hari masyarakat, fenomena ‘tahayul’ menjadi pemandangan harian. Kebanyakan masyarakat masih mempercayai dunia supranatural, yakni meyakini kekuatan kekuatan tak nampak, dan segala ritual yang melawan ‘rezim empirisme’. Umumnya masyarakat takut kegelepan lantaran ada keyakinan tentang ‘penampakan’. Mereka juga percayaya fenomena misalnya santet, ‘hari baik’, tuah benda benda dll.
Jika ditilik dari perspektif Comte, umumnya masyarakat kita relatif masih ‘primitif’. Evolusi pemikiran seperti tak beranjak meski sain dan teknologi telah mengepung seluruh sisi kehidupan. Alam pikir teologi dan metafisika masih bergumul secara kental.
Masalahnya adalah, apakah kita mempercayai teori Comte sebagai suatu kebenaran dan memposisikan masyarakat kita terbelakang sehingga harus mengejar ‘ketertinggalan’? Atau sebenarnya masyarakat kita punya pandangan kehidupan mandiri yang harus dipertahankan?
Faktanya secara teori dan filosofi, padangan masyarakat yang umumnya tradisional terbalik diametral dengan teori Comte. Pandangan tradisional menempatkan yang empirisme dan materialisme itu sesuatu yang rendah. Materialisme itu konotasi pada sesuatu yang negatif, rendah. Puncak alam pikir tradisional justru pada yang batiniah. Fenomena teologi yang dinilai terbelakang, kuno atau primitif oleh Comte justeru merupakan puncak alam pikir tradisional.
Pada posisi ini satu pertanyaan penting patut diajukan adalah siapa kita di abad modern ini? Siapa jati diri kita di abad milenial? Apakah kita akan bergerak berubah menjadi manusia modern? Atau kita akan tetap menjadi manusia tradisional dengan menyesuaikan kehidupan modern abad 21?
Pilihan pertama terasa muskil dan faktanya boleh dibilang gagal. Sedangkan pilihan kedua jalan tak menarik sekaligus terjal.






