Pelajaran dua Sahabat: Marx dan Engels (bagian 2)
Pelajaran Dua Sahabat:
Engels dan Marx
(bagian II)
Kesetiaan Marx dan Engels pada dunia pergerakan tak diragukan. Hampir seluruh hidup mereka berdua didedikasikan untuk berjuang. Dan mereka, khususnya Marx, harus menanggung derita yang lumayan berat dari pilihan hidupnya itu. Marx, hidup dalam keadaan miskin. Bahkan pernah sampai titik ia tak cukup untuk menghidupi keluarga.
Konon, untuk makan bacaan Ia tak pernah kurang, tapi untuk makan keluarga ia sangat kekurangan. Andai tak ada Engels yang membantu, entah jadi apa kehidupan Marx. Meskipun beban derita derita cukup berat, hal itu tak membuatnya bersedih dan surut. Bagi Marx yang penting bisa berjuang dan hidup dalam perjuangan.
Maka ketika bungsunya suatu saat bertanya pada ayahnya, “Apa yang membuatmu bahagia?”. Marx menjawab pendek, “Berjuang!”.
Kegilaan kehidupan Marx atas dedikasi perjuangan, membuat Jenny, Istrinya, menulis satu catatan di tahun 1865, “Dunia milik orang nekat.”
Engels pun demikian. Andai saja mau memilih kehidupan yang mapan bahkan wah, ia bisa saja. Engles tinggal mengikuti apa kata ayahnya, semua hidupnya bahkan anak turunnya akan hidup terjamin.
Ternyata Engels tidak memilih jalan ‘kemapanan’. Ia tetap menjatuhkan pilihan pada dunia pergerakan yang penuh ketidakpastian. Bahwa dia tetap bekerja pada perusahaan keluarga, itu karena Engels patuh pada orang tua. Begitu orang tuanya wafat ia hengkang dari kehidupan bisnis dan tinggal disuatu tempat yang dekat dengan Marx.
Pilihan Engels untuk hidup di dunia pergerakan tidak datang begitu saja. Setidaknya dua hal yang membuat dia terkesan. Pertama, saat ia bersentuhan dengan para Hegelian muda di Jerman. Jiwa kritis dan pemberontak tersemai disini. Kedua, saat bekerja di Inggris Ia keluyuran ke kampung-kampung kumuh yang berseberangan dengan rumah rumah kaum borjuis yang mewah. Engels merasakan adanya jurang ketimpangan yang besar dan ia tak bisa menerima kondisi sosial yang dinilainyan tak adil. Dari situ ia memilih jalan ‘sulit dan terjal’. Ia melakukan jalan perlawanan bersama sahabat Marx sehingga harus menghadapi berbagai tantangan, diantaranya tekanan aparat dari berbagai negara. Tapi begitulah konsekwensi sebuah perjuangan.
Banyak pelajaran penting dari sepak terjang dua sahabat ini. Satu diantaranya adalah perjuangannya yang gigih membela ketidak adilan. Marx dan Engels membela, yang dalam bahasa kita adalah ‘wong cilik’ (kaum buruh). Bagi dua sahabat ini, buruh tidak hanya mendapat upah kecil, tapi mereka juga dieksploitasi tenaganya. Dan yang lebih parah dari sisi kemanusiaan adalah, mereka teralienasi. Kaum buruh tak punya bergaining apapun dan bekerja hanya mengikuti gerak mesin tanpa merasakan makna dibalik apa yang dikerjakan.
Perjuangan Engels dan Marx tidaklah sia sia. Diantara buah perjuangan dua sahabat ini, utamanya atas kritiknya pada kapitalisme adalah para buruh atau karyawan diseluruh dunia bekerja 8 jam, libur akhir pekan, hak berserikat. Dan bagi negara negara yang hidup era penjajahan, sumbangsih dua sahabat ini adalah semangat antikolonialisme.
Des, 2020






